Minggu, 11 Juni 2017

Tantangan Ramadan di Oxford: Pandangan Heran hingga Rasa Kantuk

Masrura Ramidjal - detikNews

Tantangan Ramadan di Oxford: Pandangan Heran hingga Rasa Kantuk


Oxford - Bagi pemeluk agama Islam, Ramadan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya. Bulan di mana kita tidak hanya mengerjakan puasa dan meningkatkan amal ibadah kita kepada Sang Maha Pencipta, tetapi lebih dari itu bulan di mana kita akan lebih sering berkumpul bersama keluarga, sahur atau berbuka puasa bersama-sama di meja makan, salat berjemaah bersama-sama baik di rumah maupun tarawih bersama-sama ke masjid. 

Tak ketinggalan buat yang perempuan menghabiskan waktu bersama ibu dan saudara-saudara perempuan lainya untuk mengatur menu, berbelanja dan memasak bersama-sama menyiapkan menu berbuka puasa.

Tetapi semua rutinitas tahunan itu mendadak menjadi sesuatu yang sangat dirindukan ketika kita berada jauh dari keluarga, di negeri orang untuk menuntut ilmu. Semuanya menjadi hambar dan tidak semeriah ketika kita bersama keluarga. 

Tantangan Ramadan di Oxford: Pandangan Heran hingga Rasa KantukFoto: Buka bersama keluarga besar PPI Oxford (Masrura Ramidjal)


Berbuka puasa dan sahur ala kadarnya, tidak ada makanan berbuka atau takjil khusus selain kurma dan air putih, tidak ada juga makanan kesukaan atau menu-menu khusus yang disiapkan di meja makan selain makanan praktis yang biasa dikonsumsi, tidak di meja makan, malah terkadang masih sambil mengerjakan pekerjaan di tempat research.

Terlebih di Oxford, Inggris, di mana tahun ini waktu berpuasa hampir 19 jam lamanya. Waktu Subuh sekitar pukul 02.55 pagi dan waktu berbuka pukul 21.18. 

Cuaca di musim panas di Oxford tidaklah sepanas di Indonesia, berkisar 10 – 23o C, bahkan rata-rata suhunya 14-18o C di siang hari, maka tidak memicu rasa haus yang berlebihan. Dan tentu saja dengan kesibukan-kesibukan di kampus, rentang waktu puasa tersebut dengan cepat juga terlewati. 

Berpuasa di tengah-tengah orang-orang di sekitar kita yang tidak berpuasa tentu saja merupakan sebuah tantangan juga. Beberapa rekan-rekan dari negara lain yang tidak paham dengan berpuasa selalu menanyakan mengapa kita harus berpuasa segitu lamanya dan setiap kali pula kita akan menjelaskannya.

Terkadang acara-acara dari kampus yang menyediakan makan siang dan makan malam bersama juga menyisakan pandangan dan pertanyaan heran mereka. Terlebih saat tiba waktu makan malam sekitar pukul 18.30-20.00 yang memang belum waktunya berbuka, mereka akan menggeleng-gelengkan kepala karena kita sudah melewati tiga kali jadwal makan yaitu makan pagi, makan siang dan makan malam. Yah itulah kenyataannya, dan tantangan-tantangan tersebut mesti kita jalani dengan ikhlas.

Selain waktu berbuka yang sudah malam, menjalankan ibadah salat tarawih berjemaah di masjid juga menjadi tantangan lainnya. Waktu Isya adalah 22.39 dan saya mengikuti salat tarawih di Oxford Centre for Islamic Studies sebanyak 23 rakaat. 

Salat tarawih selesai sekitar pukul 00.15 dini hari dan kemudian berjalan pulang ke rumah sekitar 15-20 menit. Inginnya tetap terjaga hingga waktu sahur tiba sekitar pukul 02.00, tapi apa daya rasa kantuk dan letih mendera sehingga tak kuasa untuk terus terjaga. 

Hingga terkadang walau alarm menjerit-jerit membangunkan berkali-kali di pukul 02.00 itu, rasa kantuk yang sangat membuat berat untuk membuka mata dan mengangkat kepala. Akibatnya, sering kali sahur terlewat tanpa mengkonsumsi apapun. 

Atau kalau bisa benar-benar terjaga, waktu menandakan sesaat menjelang Subuh, maka hanya air putih saja yang membasahi kerongkongan saat sahur. 
Tidak ada suara azan atau 'sirine' seperti di kampung kita yang selalu setia mengingatkan kita untuk berhenti makan dan siap-siap untuk menunaikan ibadah salat Subuh.

Di Oxford sendiri memang terdapat umat Muslim walaupun tidaklah banyak, rata-rata para pelajar yang sedang menempuh studinya di sini. Teman-teman yang tergabung dalam Oxford University Islamic Society (ISoc), secara rutin menggelar acara berbuka puasa bersama di Prayer Room Oxford University. 

Biasanya beberapa restoran di seputaran Oxford menyumbangkan makanan, atau kadang ada juga orang Indonesia pemilik restoran di sekitar Oxford, Pak Hermien yang rutin setiap hari Senin menyumbangkan makanan untuk berbuka di sini sejak bertahun-tahun lalu. 

Oxford ISoc juga terkadang berkolaborasi dengan organisasi lainnya mengadakan acara berbuka bersama seperti acara Grand Iftar yang baru-baru ini diadakan di Grand Mosque bersama komunitas muslim lainnya untuk homeless people alias para tunawisma. Ratusan masyarakat Muslim dan non-Muslim bergabung, membawa berbagai jenis makanan untuk dikonsumsi bersama dan sebagian diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu, tidak hanya orang Muslim tapi juga kepada yang non Muslim. Mereka juga ikut merasakan suasana berbuka puasa tersebut dan melihat bagaimana seluruh muslimin dan muslimat menunaikan salat berjemaah bersama. 

Terlepas itu, suasana yang menyenangkan terkadang memang harus kita ciptakan. Masyarakat dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Oxford juga mengadakan gathering buka puasa bersama dengan suasana kekeluargaan, ibu-ibu memasak makanan, beberapa adalah makanan khas Indonesia yang tidak ditemukan di sini seperti gado-gado, urap, nasi kuning, ayam goreng dan sambal terasinya. Kemudian juga kue lemper, rengginang, kerupuk dan keripik tempe menjadi obat kerinduan akan Tanah Air tercinta. 

Tantangan Ramadan di Oxford: Pandangan Heran hingga Rasa KantukFoto: Aneka hidangan Nusantara saat berbuka bersama PPI Oxford pada 2 Juni 2017 (Masrura Ramidjal)


Buka puasa komunitas PPI Oxford diawali dengan kuliah tujuh menit (kultum) dan salat Magrib berjemaah hingga makan malam bersama. Rasanya begitu menyenangkan berkumpul bersama-sama dengan sahabat-sahabat dari Tanah Air tercinta merasakan suasana Ramadan di negeri seberang dan berusaha menciptakan suasana Ramadan seperti di Tanah Air tercinta. 

*) Masrura Ramidjal adalah PhD student Oxford School of Hospitality Management (OSHM) Oxford Brookes University, anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Oxford. 
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama dan partisipasi Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar